Tulisan ini bagian dari Cerita kami dalam Family Adventure – Kalsel Kaltim (Kalimantan Selatan – Kalimantan Timur)

Kami Sampai di Teritip, Penangkaran Buaya, sebelah kanan Jalan. Bagi yang mau menuju kesini dan belum pernah, hati hati, karena tidak ada tanda atau papan nama nya ditulis besar, tulisannya kecil saja.

Anggapan kami, tempat ini tentunya dikelola dengan baik oleh Pemda setempat, karena berstatus sebagai salah satu tujuan wisata di kaltim. Hmmm, ternyata? ada beberapa kejadian yang mengecewakan, yaitu ketika masuk kami diminta membayar 15 ribu untuk Parkir Masuk ! Ya, parkir, dan tulisan 15 ribu nya ditulis dengan pulpen biasa saja dikerta cetakan parkir berwarna kuning tersebut. Ini pasti ulah oknum, kenapa oknum? ya, karena disekitaran tersebut, tidak jauh, ada petugas aparat keamanan kongkow2 dan duduk2 manis sambil smoking tertawa manis.

Kemudian 100 meter didepan ada lagi pos untuk meminta bayaran masuk. Ya, 15 ribu lagi per orang. dan kali ini memang dikertas nya ter-cetak 15 ribu. Warga Balikpapan, apakah memang segitu dan seperti itu pengelolaan disana? atau karena sedang musim liburan saja sehingga kami mengalami perihal demikian? OK, kami masuk dan dengan harapan, pengelolaan tempat ini baik dan pengunjung nyaman.

Setelah parkir, masuk ke lokasi dan langsung bertemu dengan para Buaya Buaya yang kesenangan, kerjaannya paling hanya tidur-makan-ngerokok aja, hehehe, kidding. Ya, para Buaya akan menyambut anda dengan beragam posisi bermalas malasan, tidur tiduran, kongkow kongkow mirip aparat yang didepan tadi. Mulai dari ukuran kecil (baby, anak anak) sampai panjang 5-6 meter ada. wahh…. anak anak senang nya bukan main, dan ada spot untuk berfoto dengan baby buaya, kecil ukuran panjang 40 cm dan mulutnya diikat tali dan boleh dipegang, dan membayar seadanya.

Berfoto dengan baby Buaya, mulutnya diikat, jadi aman. Anak anak happy nya bukan main…

Setelah puas melihat buaya, anak anak ingin ke toilet. upss…. jangan salah pilih toilet, kalau arah keluar dari lokasi penangkaran, jangan ke toilet yang arah ke kiri, karena ancur, tidak dibersihkan, tidka ada air, berantakan tidak terawat. Kami berjalan lagi ke sebelah kanan dan menemukan toilet yang lumayan bersih dan dijaga oleh anak anak, dan lumayan bersih.

Setelah dari toilet lanjut melihat Gajah, ya Gajah… hmm, Gajah masih ada ya di Kalimantan? dimana hutan nya yang sudah habis bis bis, mana mungkin masih ada gajah ya? anyway, nggak tau lah, dari mana ini asal gajah, entah dari pulau lain atau bagaimana, dan tempat bertanya pun tidak ada, karena tidak akan ada petugas resmi yang bisa kami temui disini untuk sekedar bertanya ataupun memberi informasi ke pengunjung, jadi jangan kecewa, nikmati dan syukurilah apa yang ada hehe. Gajah tersebut masuk kategori anak anak, tinggi 1.5 meteran, ada 2 ekor per juli 2014 dan insyaAllah semoga bertambah ya, biar ada lagi populasi gajah di kalimantan ini.

Didekat lokasi gajah tersebut diikat (ya diikat kakinya), kasihan ya? terdapat rumah adat Dayak yang sangat bagus arsitektur nya, namun apa dinyana…. tidak terawat, rumput setinggi orang dewasa, dinding dan ornamen rumah adat sudah hancur dan cat mengelupas, sangat disayangkan….. dimanakah perhatian pemerintah kaltim? ataukah wahana tersebut milik pribadi masyarakat saja dan mereka kelola sendiri? Jangan sampai begitu lah wahai pemerintah, lestarikan dan berikanlah sedikit perhatian supaya wahana penangkaran buaya ini dan ornamen didalamnya menjadi kebanggaan Kalimantan Timur, dan terjaga dengan baik…. semoga

Salah satu ornamen yang terpasang di rumah adat tersebut, amazing

Setelah melihat Gajah mamam, mimik (minum) dan e-ek, karena anak anak hampir aja nginjak bekas e-ek nya, kami menuju ke lokasi monyet di kurung. ya, sebuah kurungan, bukan penangkaran namanya jika binatang ditempatkan disebuah tempat yang hanya seluas kamar kostan dan isinya banyak. Para monyet sudah kekenyangan karena disuguhi terus pisang oleh pengunjung, beli pisang 2ribu dapat 3 biji. Namun monyet hanya mau minta kacang dan kantong keresek (kantong plastik). lucu, dan anak anak happy… alhamdulillah. karena kantong tersebut setelah di kasih, si monyet nutupin sendiri tuh kepalanya pakai kantong plastik dan mutar mutar sambil bercanda dengan teman teman nya yang lain…. subhanallah, mereka juga bisa bercanda dan tersenyum… kalau monyet saja bisa, kenapa kita tidak bisa juga membuat orang lain tersenyum? senyum adalah ibadah….

Semoga saja pemerintah kota atau pemda disana segera lebih care dan peduli terhadap salah satu tempat wisata di balikpapan ini, sehingga penataan dan pengelolaan nya lebih baik lagi, kasihan buaya, gajah dan para monyet yang di tangkar dengan pola seperti itu.

— August 1, 2014

What Do You Think?

Thanks elo © 2018