Rumahku Investasiku

Apakah definisi rumah yang baik? Tentu pendapat setiap orang berbeda-beda. Secara umum, rumah yang baik adalah rumah yang memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, rumah itu harus enak dipandang.

Ada unsur keasrian dan keserasian dengan alam, baik dalam skala kecil (kondisi rumah itu sendiri), maupun skala makro (kawasan dan lingkungan yang bersih dan tertata rapi). Kedua, rumah itu harus nyaman ditinggali.

Sirkulasi udaranya bagus, demikian juga dengan pencahayaan matahari. Rumah yang baik adalah yang ketika siang hari cahaya bisa masuk dengan leluasa sehingga tak perlu menyalakan lampu sama sekali, tetapi tetap bisa terang. Dengan sendirinya rumah seperti itu juga sehat.

Rumah yang memenuhi persyaratan itu tentu akan terasa enak ditinggali, sebab ada keseimbangan antara penglihatan mata dengan rasa. Dan jangan lupa, kalau dijual kembali, enak hasilnya.

Rumah asri, nyaman, dan sehat, otomatis harga jualnya juga akan tinggi. Jadi, “rumahku adalah investasiku,” layak dikumandangkan. Dalam kondisi perputaran bisnis properti yang menggiurkan saat ini, rumah bukan lagi sekadar istana, tetapi juga menjadi investasi yang berharga.

“Merasa untung, juga penting bagi pemilik rumah,” kata pengembang Lukman Purnomosidi.

Untuk menciptakan rumah demikian, tentu tidak sulit. “Feng shui jadi kuncinya,” kata Lukman, yang sejak tahun 1987 lalu sudah memegang dua kata kunci itu dalam setiap pembangunan perumahan atau kawasan yang ditanganinya.
Bagi banyak kalangan, feng shui tidak terlalu kompleks karena hal itu merupakan pelajaran dari pengalaman manusia berinteraksi dengan alam dan lingkungannya, yakni unsur udara, air, gunung, hujan, dan sebagainya, yang semuanya mengandung unsur logika.

Pengaruh lingkungan terhadap manusia misalnya ada tiga, yakni positif, negatif, dan netral. Dalam membangun rumah, hal-hal seperti itu dipelajari, bagaimana caranya meminimalisasi hal-hal negatif dan mengoptimalkan hal-hal positif.

“Saya menjadi ‘dukun’ sendiri dalam setiap pengembangan kawasan atau perumahan yang saya tangani. Selain logika, feeling juga penting,” kata Lukman, yang juga Ketua DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) itu.
Feng shui itu bisa disebut logikanya cukup sederhana. Misalnya, ruginya membangun rumah “tusuk sate”. Secara sederhana, kalau ada mobil yang remnya blong, tentu rumah itu akan tertabrak.

Dari segi aliran udara, rumah demikian akan kebagian udara yang kencang, sebab bentuknya seperti lorong yang tak bisa mematahkan aliran udara yang kencang. Jadi, kurang sehat bagi penghuninya.

Jangan khawatir, ada solusinya. Bangunlah pagar yang kokoh atau tanaman yang rapat sehingga bisa mengempang angin, atau menahan mobil yang remnya blong. Namun, penggunaan jasa feng shui tentu tidak sama untuk semua strata sosial masyarakat. Untuk masing-masing segmen ada titik optimumnya.

Untuk kelas atas, tentu kendalanya lebih sedikit. Mereka betul-betul bisa mengaktualisasikan penggunaan feng shui dengan kemampuan dana yang dimiliki. Namun untuk rumah tipe kecil, misalnya tipe 21 dengan tanah 60 meter, pengembang sebisanya membangun dengan prinsip enak ditinggali dan sedap dipandang.

“Permasalahan sering timbul kalau terjadi pengembangan. Misalnya, pemilik mengembangkannya menjadi dua lantai. Tentu masalah sirkulasi udara dan pencahayaan praktis terganggu. Kami tak bisa apa-apa lagi. Itu hak individu,” kata Lukman.

New Age

Kisah sukses beberapa pengembang di Indonesia, sering tak lepas dari feng shui yang diterapkan dalam membangun setiap hunian. Beberapa proyek terbukti laris-manis, kala calon pembeli mengetahui bahwa pembangunan rumah dan kawasan itu dilakukan dengan dasar-dasar feng shui.

Tak heran, sampai kini tak terhitung lagi banyaknya orang yang percaya pada keandalan feng shui, bukan saja dari negeri asalnya, tetapi ilmu arsitektur Cina kuno ini sudah merambah ke negara-negara Asia lainnya, juga ke dunia barat. Justru sekarang, feng shui dikategorikan dalam ilmu pengetahuan new age, atau pengetahuan abad baru.
Mengutip pendapat pakar feng shui, Herman Wilianto Ph.D, ada pembaruan di dalam feng shui karena sekarang ini buku-buku feng shui banyak yang dikarang oleh orang barat.

Mereka memasukkan teknologi untuk mendeteksi energi, bahkan sekarang bisa dibantu dengan fotografi aura. Di buku-buku feng shui yang sekarang ada, diuraikan juga kaitannya dengan cakra-cakra yang ada dalam tubuh manusia. Cakra itu pusaran energi, tempat keluar-masuknya energi dalam tubuh manusia.

Kenyataannya, jika ditelusuri lebih jauh, feng shui sering tidak sesederhana yang dianggap orang. Sepertinya, ada unsur “misteri” di dalamnya, yang tak bisa dilihat oleh orang awam, tetapi bisa dirasakan.

Secara harafiah, menurut Herman, feng shui berarti angin (feng) dan air (shui). Dalam ilmu feng shui, angin dan air dikenal sebagai pergerakan alam yang banyak membawa chi, yaitu energi kehidupan (life force).

Jadi, menurut arsitek kelahiran Solo, 19 Juni 1956 itu, feng shui sebenarnya ilmu yang mempelajari pola distribusi dan pergerakan energi chi di atas permukaan bumi, dan mempelajari bagaimana supaya energi-energi itu mendukung kehidupan manusia yang berada di lingkungan itu. Misalnya, membuat hidup lebih sehat, lebih bahagia, lebih produktif bekerja, dan sebagainya.

Karena merasa pentingnya feng shui dalam dunia bisnis, Herman bersama teman-temannya mendirikan PT Yin Yang, yang menyediakan jasa feng shui. Dia sendiri menjadi direktur utama perusahaan yang juga menyediakan jasa desain dan konsultan itu.

Pasar feng shui di Indonesia memang kini cukup laris. Kang Hong Kian, salah seorang pakar feng shui yang cukup terkenal, terutama karena seringnya dia tampil di media massa dengan solusi dan ramalannya yang jitu.

Dalam beberapa sinopsis dalam situsnya¬†www.duniafengshui.com, digambarkan, betapa dia mampu melihat kondisi rumah seseorang hanya dengan bertemu dengan orang tersebut. Kang Hong Kian menggunakan pola interaksi elemen “Yin-Yang 5 Unsur”, yang di samping bermanfaat untuk mengatur tata letak bangunan rumah demi keselarasan para penghuninya, ataupun meramalkan sesuatu, dimanfaatkan juga dalam ketabiban. Misalnya, sakit pinggang seorang ibu rumah tangga dianalisis oleh Kang bukan karena kelelahan ataupun sebab lainnya, tetapi akibat kekeliruan dalam menata dan mengondisikan bangunan rumahnya, khususnya kerusakan pada dinding.

Tanpa melihat langsung rumah tersebut, Kang menjelaskan, ada bagian rumah yang begitu lembab. Kalau kita masuk ke dalam rumah, kelembaban tersebut berada di sudut kiri bagian belakang. Selain karena dindingnya menyerap air hingga selalu basah, di situ pun merupakan tempat mencuci dan menjemur pakaian.

“Sebaiknya, tempat tersebut dikeringkan secara fisik, atau disiasati dengan cara dipasangkan lampu nonstop setiap hari. Kalau dibiarkan, akan muncul penyakit lain terhadap penghuni rumah,” katanya memberi solusi.

Ditafsirkan Keliru
Dari pengalamannya selama ini, Kang mengakui, feng shui terkadang ditafsirkan secara keliru oleh mereka yang masih awam. “Feng shui merupakan ilmu tata letak bangunan, dan sama sekali bukan klenik,” katanya.

Sementara Herman Wilianto mengatakan, feng shui tidak menjamin keberhasilan. “Feng shui hanya memperbesar peluang berhasil. Untuk benar-benar mencapai sukses, masih bergantung pada usaha manusianya sendiri,” ujar PhD dari University Of Waterloo, Kanada ini.

Bagi Kang dan Herman, hal itu memang biasa. Tetapi bagi awam, tentang cakra, aura, pusaran energi, dan sebagainya, tentu sulit untuk menjelaskannya. Karena itu, pakar feng shui sekelas Herman dan Kang Hong Kian tentu kini banyak dicari orang. Selain untuk urusan ramal-meramal, dalam membangun properti peran feng shui tak bisa diabaikan lagi.

Kang Hong Kian sendiri misalnya, bisa menguraikan tentang pemilihan kavling rumah tinggal. Bagaimana memilih lahan/kavling tanah yang sesuai untuk mendirikan bangunan rumah-tinggal, terutama berkaitan dengan tinjauan atas energi negatif dan positifnya.

Kang juga pakar dalam hal cara membangun rumah dan penataan furniture-nya sehubungan dengan kondisi penghuninya. Salah membangun dan menata rumah bisa menimbulkan masalah seksual, menghambat keberuntungan, labil dan lesu dalam berkarya, tiada kata sepakat dalam keluarga, keseimbangan berpikir menguap, gangguan keuangan, dan sebagainya.

copy paste? silahkan, tidak dilarang. Tapi minta tolong supaya dicantumkan link sumbernya, anda lebih keren.

— April 3, 2005

What Do You Think?

Thanks elo © 2018