Komitmen WHO untuk Perlindungan Kesehatan Anak

Anak bukanlah miniatur orang dewasa. Anak menjalani proses tumbuh kembang yang dinamik. Mereka sangat rentan terhadap efek polutan akut dan kronik yang ada di lingkungan mereka. Kenyataannya, tiga juta balita meninggal tiap tahun akibat lingkungan yang tidak aman. Air minum yang tidak sehat dan sanitasi buruk, polusi udara dalam ruangan, serta kecelakaan, cedera dan keracunan merupakan tiga aspek saja dari begitu banyak penyebab kematian balita tersebut.

Di negara berkembang, pada tahun 2000 saja sebanyak 1,3 juta balita meninggal akibat diare yang disebabkan persediaan air yang tidak sehat, sanitasi, dan higine yang buruk. Data WHO mengungkapkan 60% dari 2,2 juta kematian per tahun pada balita disebabkan oleh infeksi saluran napas akut akibat polusi udara dalam ruang, di antaranya akibat pembakaran bahan bakar biologi dalam ruang yang kecil dan sempit, kurangnya pemanasan yang adekuat dan/atau kondisi sehari-hari yang tidak bersih. Kecelakaan yang meliputi kecelakaan jalan raya, tenggelam, terbakar, dan keracunan adalah penyebab lebih dari 400.000 kematian balita per tahunnya.

Penurunan kualitas lingkungan ini dapat menimbulkan dampak yang luas bagi anak, terutama hilangnya atau menurunnya kemampuan untuk hidup aktif. Penelitian mengungkapkan bahwa lebih dari 40% penyakit dunia akibat faktor bahaya lingkungan dapat terjadi pada balita. Sementara balita sendiri merupakan 10% bagian populasi dunia. Tetapi, sampai saat ini tidak ada usaha spesifik yang dilakukan untuk mengaitkan bahaya lingkungan tertentu mana yang mempengaruhi anak. Karena itu, WHO membentuk Satuan Tugas untuk Perlindungan Lingkungan Anak (Task Force for the Protection of Children’s Environmental Health). Satgas ini meluncurkan kegiatan besar pertamanya, yaitu The International Conference on Environmental Threats to the Health of Children di Bangkok.

Konferensi ini akan menitikberatkan ancaman lingkungan utama terhadap kesehatan dan perkembangan anak, serta berbagai usaha yang akan dilakukan untuk menurunkan dampak lingkungan ini pada anak. Selain faktor risiko di atas, topik seperti efek pajanan timbal, merkuri, pestisida, polutan organik persisten, dan zat kimia lain pada anak juga akan dibahas. Demikian juga efek asap tembakau, radiasi, perubahan lingkungan, dan kualitas serta keamanan makanan anak. Selain itu, akan dikaji pula bagaimana membuat lingkungan rumah, sekolah, kerja yang lebih aman bagi anak.

Komitmen atas kesehatan anak berarti semua bahaya harus dikurangi di semua tempat seorang anak menghabiska sebagian besar hari-haringya, termasuk jalan dan sarana transportasi yang mereka gunakan, ungkap Dr. Richard Helmer, Direktur Departemen Kesehatan Lingkungan WHO. (WHOpress)

copy paste? silahkan, tidak dilarang. Tapi minta tolong supaya dicantumkan link sumbernya, anda lebih keren.

— April 6, 2004

What Do You Think?

Thanks elo © 2018