Shaft Produksi Big Gossan PT Freeport Indonesia (PTFI) sekarang dalam tahap ekskavasi dan pengembangan, dengan pekerjaan shaft sinking (konstruksi shaft) dilakukan dengan penggunaan platform Galloway (permuka kerja) dengan ketinggian 13 meter. Shaft vertikal ini, dengan diameter 5,5 meter dan tinggi 642 meter akan digunakan untuk memindahkan bijih dari crusher ke conveyor (sistem ban berjalan) dengan menggunakan skip (semacam ember besar). Teknik dan rancangan shaft, juga pekerjaan shaft sinking serta konstruksinya dilakukan oleh PT Redpath Indonesia, yang memiliki pengalaman lebih dari 70 shaft sinking dengan lebih dari 71.000 meter.
Konstruksi shaft dimulai dengan ekskavasi pilot raise (lubang pertama), yang kemudian diperlebar melalui peledakan, dibersihkan dan dilapisi dengan beton berketebalan 250 milimeter yang berfungsi untuk memperkuat dinding shaft tersebut. Proses ini (benching) akan berlanjut hingga konstruksi shaft mencapai level dasarnya. Shaft ini adalah jenis shaft pertama di Indonesia.
Konstruksi Shaft Produksi Big Gossan diperkirakan akan selesai pada tahun 2009, dan dilanjutkan dengan konstruksi sistem hoisting double-drum atau pengendalian skip untuk pemindahan bijih dari dasar shaft (level crusher) ke level conveyor. Kapasitas sistem hoisting tersebut diperkirakan mencapai 7.000 ton per hari dengan menggunakan 2 skip berkapasitas 13 ton per skip. Dengan menggunakan empat rope guides (tali pandu) pada setiap skip untuk memastikan keselamatan dan stabilitas.
Big Gossan
Tambang Big Gossan PT Freeport Indonesia (PTFI) bermula dari ditemukannya suatu cadangan bijih hasil eksplorasi oleh satu tim ahli geologi yang dipimpin oleh Frank Nelson tahun 1976. Setelah melalui perjalanan panjang dengan dilakukannya eksplorasi lanjutan dan studi kelayakan, akhirnya pekerjaan pengembangan Tambang Big Gossan telah dimulai.
Tambang Big Gossan adalah tambang bawah tanah yang unik di lingkungan tambang PTFI karena metode penambangan yang digunakan adalah stope terbuka dengan pengisian kembali bekas lobang menggunakan bahan berperekat atau semen. Stope adalah suatu hasil ekskavasi bawah tanah yang dibuat dengan memindahkan bijih dari batuan sekelilingnya. Segera setelah stope ditambang, akan diisi kembali untuk menghilangkan rongga akibat pengambilan bijih. Hal ini untuk meyakinkan bahwa operasi pekerjaan aman dan stabil serta memungkinkan ekstraksi keseluruhan badan bijih. Tenaga pelaksana lapangan dikerjakan oleh kontraktor PT Redpath Indonesia.
Pengembangan pada tahun 2005-2009 diperkirakan akan menghabiskan biaya 225 juta dolar AS. Tambang Big Gossan akan mulai berproduksi pada tahun 2009 dan akan mencapai produksi tertinggi 7.000 ton per hari pada tahun 2011. Tak kurang dari 560 orang tenaga kerja pada tahap produksi penuh. Tambang Big Gossan diharapkan menghasilkan logam tambahan sebesar kurang lebih 135 juta pon tembaga dan 75.000 ons emas setiap tahun. (eBK) Foto: DOK/UG
|