Setelah menempuh perjalanan selama empat hari, akhirnya pengapalan perdana Pasir Sisa Tambang (SIRSAT) PT Freeport Indonesia (PTFI) tiba di Merauke pada Jumat (16/5).
Pengiriman SIRSAT yang akan dipergunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur di Kabupaten Merauke ini merupakan realisasi dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu dengan Presiden Direktur & CEO PTFI Armando Mahler di Jakarta tanggal 24 November 2006 yang lalu tentang pemanfaatan SIRSAT PTFI untuk pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua.
Bupati Merauke Drs. Johanes Gluba Gebze meninjau langsung pengiriman perdana SIRSAT ke atas tongkang ketika material itu diturunkan dari KM Iska yang sandar di Dermaga Purnama Raya, Desa Serapu, Distrik Mangga, Kabupaten Merauke.
“Barang ini akan menjadi solusi alternatif atas kelangkaan material bangunan di Merauke selama ini,” demikian Bupati Gebze berujar.
Bupati optimis bahwa pemanfaatan SIRSAT akan memangkas tingginya biaya pembangunan infrastruktur di Kabupaten Merauke, khususnya pembangunan jalan yang selama ini menggunakan aspal. ”Saat ini kami mencoba menyiasati pembangunan jalan dengan konstruksi beton; lebih murah dan memerlukan biaya perawatan rendah ketimbang mempergunakan aspal. Setelah SIRSAT tersedia, kami akan langsung mencoba menggunakannya,” katanya.
Beberapa saat setelah melakukan pengecekan tongkang yang mengangkut sekitar 4.000 m³ SIRSAT tersebut, Bupati yang hadir bersama dengan Muspida Kabupaten Mimika bergegas menuju tenda untuk melihat hasil ujicoba beton yang menggunakan SIRSAT.
Di hadapan para undangan yang berasal dari unsur masyarakat, Muspida, para pengusaha Merauke, perwakilan LAPI-ITB dan dua orang perwakilan manajemen PTFI; Senior Manager External Relations Iwan Kaldjat dan Manager - Goverment Affairs Jayapura Syahrial Boesy, Direktur Lembaga Afiliasi dan Penelitian Industri (LAPI) Institut Technologi Bandung (ITB) Dr. Ir. Indratmo Soekarno memaparkan keunggulan dan karakteristik beton SIRSAT. ”Sejak 10 tahun yang lalu kami mengkaji pemanfaatan SIRSAT sebagai suatu sumber daya. Lima tahun di antara waktu itu kami melakukan uji laboratorium untuk mengetahui kandungan dan unsur SIRSAT, kemudian menentukan bahan perekatnya. Akhirnya, dari ribuan polimer yang ada di alam kami menemukan satu polimer yang sesuai dengan SIRSAT untuk dibuat menjadi beton,” katanya.
Menanggapi upaya Pemda Merauke yang akan mengganti konstruksi jalan dengan beton demi alasan efisiensi biaya, Direktur LAPI-ITB sangat mendukung rencana tersebut. ”Jalan yang menggunakan aspal lambat laun akan tergantikan dengan beton karena kian tingginya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dewasa ini. Selain murah, konstruksi beton SIRSAT ini memberikan free maintenance selama kurang lebih 10 tahun,” paparnya.
Untuk memperoleh hasil maksimal, beton SIRSAT harus memiliki ketebalan minimal 25 cm dan dicor selama satu minggu.
Sementara itu, Bupati Merauke Drs. Johanes Gluba Gebze dalam pidatonya menyampaikan terima kasih kepada PTFI dan LAPI-ITB yang telah menyediakan material dan mengembangkan teknologi beton SIRSAT. ”Persoalan kurangnya material bangunan di Merauke akan terpecahkan dengan ketersediaan SIRSAT. Yang penting kontinuitasnya terjaga,” papar Bupati Gebze.
Untuk memastikan kekuatan beton SIRSAT, Bupati Merauke menyempatkan untuk memukul jalan beton di desa Serapu, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke yang baru dicor selama beberapa jam dengan palu. ”Anda sendiri melihatnya bahwa barang ini tidak bergeming ketika saya pukul dengan palu, walaupun baru beberapa jam dicor,” kata Bupati kepada para wartawan yang meliput ujicoba tersebut.
Kepada para wartawan, Bupati Gebze juga menjelaskan bahwa mereka bak menerima ’durian runtuh’. ”Ada tawaran material gratis dan tersedianya teknologi, kenapa tidak kita manfaatkan.” Selanjutnya material tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur jalan.
Saat ini, beton SIRSAT telah banyak diaplikasikan untuk membuat konstruksi jalan, jembatan dan bangunan. Di lingkungan PTFI beton SIRSAT telah dimanfaatkan antara lain untuk membangun jalan logistik dan terminal baru bandara PTFI. Sementara di Timika, ruas jalan lingkungan, jalan menuju pelabuhan Paomako, jembatan sungai Kaoga, jembatan Paomako II dan gedung bertingkat untuk kantor Kabupaten yang baru di SP3 juga dibuat dari beton SIRSAT. (bw)[/e].
|