Pendakian Cartensz Glacier 4700 mdpl

diposting oleh dandrian pada Sabtu - 24 Feb 2007

this article recently updated since lot of requests for more pictures from my archives and story (20140924)

Rasanya belum telat untuk menceritakan pengalaman Papa waktu mendaki Cartensz Glacier, Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Cartensz Glacier terletak di 04 05'02.38 S, 137 10'57.42" E dengan ketinggian 4700 mdpl (meter diatas permukaan laut). Yang merupakan salah satu kebanggan bangsa indonesia, karena Pegunungan Jayawijaya ini memiliki beberapa puncak yang selalu diselimuti Salju Abadi, yang selalu ada sepanjang tahun, baik itu musim panas atau pun musim dingin (hujan). Dan memang karena pengaruh dari pemanasan global, luas salju abadi ini telah berkurang sekian cm setiap tahunnya. 

Selain Cartensz Glacier, ada satu Glacier lagi dengan paparan salju yang lebih luas, dan terletak di beberapa KM di sebelah utara Cartensz Glacier, yaitu Merensz Glacier. Paparan saljunya 2 kali lebih luas dari Cartensz.

 

Rencana Pendakian
Pada akhir November 2005, awal mulanya rencana ini tercetus tiba tiba saja, karena ide ini tercetus ketika Papa sedang Coffe Time dengan teman kantor, karena rasanya sayang jika belum pernah menjejakkan kaki di Puncak Cartensz, Papua. Setelah mendiskusikan masalah persiapan pendakian, perizinan dan waktu yang tepat barulah Papa sounding ke teman teman yang lain, dan bluppp... banyak yang ingin ikut dan minat dengan ide pendikian ini. Hanya dalam 1 hari sudah terkumpul 30 nama yang positif dan confirm untuk ikut dalam pendakian.  Bahkan dalam 3 hari masih banyak animo teman teman yang lain untuk ingin bergabung dalam pendakian ini, tapi setelah di pertimbangkan bersama sama team inti yang lain, Papa dan teman teman memutuskan untuk melakukan pendakian dengan jumlah team yang kecil, karena ini adalah pengalaman pertama untuk mendaki Cartensz, dan mungkin untuk pendakian berikutnya bisa membawa team yang lebih banyak lagi

Persiapan Pendakian
Setelah terkumpul 30 nama yang confirm untuk ikut, maka di persiapkan lah beberapa proposal perizinan untuk beberapa instansi terkait, karena tidak gampang untuk melakukan sembarang pendakian, approval dan perizinan mereka sangat diperlukan, karena Cartensz Glacier tidak sama dengan puncak puncak gunung yang lain yang ada di indonesia, selain tempatnya yang tinggi yaitu 4700 meter diatas permukaan laut, juga suhu udara yang sangat ekstrim yang bisa mencapai -30 derjat celcius.

Sambil menunggu approval dan perizinan dari semua pihak pihak yang terkait, Papa dan teman teman pun melakukan latihan, mulai dari rutinitas latihan mental dan fisik yang dilakukan 3 kali dalam 1 minggu yaitu dengan melakukan jalan kaki bolak balik dari Tembagapura ke Hidden Valley yang berjarak +/- 4KM dan dengan sudut kemiringan landscape yang tidak datar, bahkan sampai ada yang 45 derjat. Latihan ini memang berat, dan memang dari sini bisa dilihat seberapa jauh mental dan kekuatan fisik kita siap untuk melakukan sebuah pendakian, dan memang benar pendapat sebagian orang yang mengatakan bahwa, jika ingin melihat sifat dan tabiat seseorang lihatlah ketika dia mendaki... (nggak tau benar apa salah)

Dari 30 orang yang confirm akhirnya gugur beberapa orang, sehingga tinggal 24 nama saja yang terus lanjut untuk melakukan pendakian, karena 6 orang lainnya ada yang tidak bisa ikut karena rutinitas pekerjaan yang tiba tiba bentrok dengan jadwal latihan, ada yang sakit dan ada juga yang drop ketika latihan.

Alhamdulilah, persis 1 minggu setelah submission Papa dan teman teman pun mendapatkan Approval untuk semua perizinan yang diminta dan tentu saja dengan perjuangan yang berat untuk mendapatkan perizinan tersebut, tidak gampang. Artinya masih sisa 1 minggu lagi sebelum waktunya pendakian dilaksanakan. 2 hari sesudah nya, Papa dan teman teman pun di briefing oleh mentor mentor dari ERG dan diberi arahan mengenai pendakian ini, mulai dari Safety, Gear, Strategy dan juga teknik teknik pendakian yang cukup detail diberikan oleh mereka. Rasanya sudah cukup lengkap persiapan mental dan fisik Papa dan teman teman untuk melakukan pendakian.

4 Jam sebelum pendakian
Persis FaYa masih berumur 4.5 bulan, walaupun Papa berat rasanya meninggalkan FaYa dan Mama (ALFi belum lahir), tapi rasanya ini kesempatan yang sangat berarti dan sangat bodoh sekali jika dilewatkan begitu saja. 
Berangkat dari rumah dan Mama pun menyiapkan semua perlengkapan papa, mulai dari sepatu trekker, 1 celana training (kaos), 1 baju kaos, 1 sweeter, 1 jaket parasut, 2 pasang kaos kaki, plastic gloves, kupluk, kacamata anti radiasi matahari (karena kalau sudah berada di salju dan es yang membeku mata akan silau terkena sinar matahari), climbing stick, tas ransel, aqua besar 2 botol, beberapa roti dan coklat, apel dan pisang, senter, digicam dan handycam. Jangan salah, bahwa coklat, apel dan pisang merupakan makanan paling efektif untuk menambah karbohidrat dan tenaga, dan juga cepat untuk membuat pembakaran dalam tubuh. Jadi kalau melakukan pendakian yang didaerah ekstrim jangan pernah membawa dapur dalam tas... :) (bawa nasi, lauk, samba, cuci mulut, dll) karena anda akan semaput sebelum sampai ketujuan, karena se efektif mungkin barang bawaan maka pendakian akan semakin lancar dan tidak akan terasa berat (walaupun masih terasa sangat berat pada kenyataannya).     

Pendakian Cartensz Glacier
Persis pada tanggal 3 Desember 2005, pukul 21.oo WIT pendakian ini dimulai. Setelah briefing 30 menit, Papa dan teman teman mulai bergerak naik dari Bali Dump sekitar pukul 21.30 WIT cuaca pada saat itu hujan rintik rintik ditambah dengan tiupan angin yang lumayan kencang, sangat sangat ekstrim dan mungkin bagi yang belum terbiasa bserada didaerah dingin akan langsung berbalik arah ataupun tumbang pada saat mulai di start point. Dan memang hal ini kejadian, karena 2 orang yang persiapan mental dan fisiknya kurang pada saat latihan berbalik arah dan dibawa oleh team rescue ke Tembagapura karena sudah tidak kuat dengan keadaan cuaca yang sangat dingin dan juga tipisnya oxygen yang menyebabkan dada sesak dan susah bernapas.

60 menit dari Bali Dump, sampailah Papa dan teman teman di sebuah Danau yang sangat indah pemandangannya, walaupun keadaan gelap gulita dan hanya di terangi dengan senter pun pemandangan dan suasana didanau tersebut terasa sangat indah sekali. Papa dan teman teman pun istirahat 15 menit, karena terus terang napas sudah tersengal sengal dan rasanya mau putus! walaupun melakukan pendakian dengan jalan kaki dan perlahan selama 60 menit rasanya seperti lari lari kencang mengelilingi lapangan sepak bola 1000 kali... bayangkan!
Dan tidak lupa, team ini membawa bekal beberapa tabung compact exygen jikalau sewaktu waktu dibutuhkan.

Perjalanan pun dilanjutkan dengan perlahan, team pun dibagi menjadi beberapa bagian, ada team breaker untuk pembuka jalan didepan dan middle-giard dan sweeper. Papa pun mengambil bagian di belakang untuk bersama sama dengan teman teman Papa yang kebetulan sudah diatas 40-an, dan memang berat jadi sweeper tapi yang penting adalah kebersamaannya dan care terhadap teman.

Pada pukul 01:oo WIT sampailah di Pintu Angin,... dari namanya saja sudah ketahuan bahwa ini tempat lewatnya angin... yang sangat kencang dan dingin sekali, karena itulah dinamakan pintu angin. Secara fisik memang daerah tersebut sangat mirip sebuah lorong panjang, dimana diujungnya terdapat tebing vertikal yang sangat dalam. Dan karena adanya angin lembah dan arahnya bertiup kebawah, maka persis pada daerah Pintu Angin lah ujung dari lorong tersebut dan menjadi pass gate dari angin yang bertiup, menakjubkan...

Kemudian Papa sampai di Base Camp, pada pukul 16:00, daerah ini merupakan sebuah Landscape yang cukup datar dan luas dan Papa pun alhamdulillah sempat melakukan Shalat Subuh disana, di daerah tertinggi di dunia ini mencoba untuk tetap menghadap-nya dan memang rasanya shalat disana sangat sangat berbeda, tapi tidak tahu jika ditanya seperti apa rasa bedanya.... mungkin karena secara phisikologi perasaan takjub terbawa pada saat shalat dan mengagumi ciptaan-Nya ini.

Ketika berada di Base Camp, dengan sangat perlahan dan rona merah yang tampak dilangit, dengan adanya Matahari yang mulai terbit, tapi masih kelihatan cahaya nya saja, terlihat jelas disana pemandangannya ketika itu benar benar menakjubkan dan memang kebetulan sudah tidak hujan lagi pada saat berada disana.

Kemudian perjalanan dilanjutkan, persis batasnya dari Base Camp ini landscape pendakian sudah tidak tanah lagi, tapi sudah berupa batu batu besar besar yang seperti batuan kapur, karena warnanya bercampur putih yang berdiri menjulang keatas dan tersusun sedemikian rupa tapi sangat indah. Mungkin warna keputih-putihan ini karena batunya sudah lama membeku karena diselimuti oleh salju dan es dari jaman dulunya, dan mungkin karena perubahan iklim dan pemanasan global maka salju dan es sudah tidak terpapar lagi pada area tersebut. Tapi Glacier sudah mulai tampak di depan mata, dan rasanya sudah bisa dijangkau dengan tangan. Tapi jangan salah salah bahwa waktu yang dibutuhkan masih 6 jam lagi untuk sampai kesana.

15 menit dari Base Camp, Papa dan teman teman harus melewati Tebing Setan, dinamakan seperti itu karena merupakan sebuah tebing yang terjal, tinggi dan elevasinya sangat ekstrim untuk didaki, tapi memang itulah satu satunya kases untuk dilewati. Dengan gotong royong dan saling membantu alhamdulilah tebing tersebut bisa dilewati dengan selamat, walaupun memakan waktu yang cukup lama.

Mataharipun sudah tampak dari ufuk timur, cuaca cerah tapi sangat dingin sekali walaupun kita berpikiran adanya matahari akan membuat cuaca lebih panas, tapi pada kenyataannya tidak... masih sangat dingin.

Area yang harus dihadapi sekarang adalah area dengan landscape batuan yang countur nya sangat acak, mendaki, menurun, datar, terjal, jurang dan sangat berbahaya sekali jika tidak hati hati. Malah ada 3 orang teman Papa dari team yang keluar dari jalur, dan mereka berada dibawah, di sebuah lembah yang mana jalur normal berada 700 meter diatas. Bayangkan kengeriannya, Papa bisa melihat teman teman tersebut bagaikan titik, dan tempat Papa berdiri pun tidak lebar, dan jika tidak hati hati, terjatuh sangat berisiko tinggi. Akhirnya alhamdulilah teman teman yang tersesat tadi menemukan jalur yang benar dan mereka bisa bergabung dengan team walaupun harus dipandu dengan saling berteriak, tali dan juga binocular yang sangat berguna pada saat pendakian.

Ada beberapa teman yang rasanya sudah tidak mampu lagi untuk melakukan pendakian, karena dada sudah terasa sangat sesak, oxygen tipis dan juga tenaga yang cepat terkuras. Tapi setelah di semangati lagi dan juga tetap support dari semua team teman teman Papa tersebut kembali meneruskan perjalanan walaupun setiap 20 langkah berhenti dan istirahat kemudian jalan lagi dengan perlahan. Memang ini sebuah pendakian yang tidak biasa dan berat.

sekita pukul 09.oo WIT Papa dan teman teman berada disebuah area yang mana dari area tersebut tidak bisa dilihat Glacier yang tadinya bisa dilihat dari bawah, karena mereka berada disebuah bukit yang mana persis dibaliknya adalah Glacier. Ketika berada di puncak bukit batuan tersebut dengan perjuangan yang berat oleh semua team dan ketika berjalan pun pandangan sudah berkunang kunang, dada sesak dan napas teresenggal senggal...  setelah beberapa langkah di puncak bukit batuan tersebut mulailah terlihat Cartensz Glacier yang terpapar dengan luasnya dan keindhan salju abadinya yang terbentang dari bawah bukit batuan itu sampai terus ke puncaknya. Sangat sangat indah dan menakjubkan. Papa jadi teringat makna dan cerita dari Film Lord of The Ring dimana ketika Fobo dan temannya mendaki sebuah gunung dan ketika berada di puncak mereka menemukan makna dari pendakian tersebut.

Benar benar tidak bisa diungkapkan dengan kata kata, napas pun jadi plong, kaki pun rasa nya ingin terbang dan kunang kunang pun hilang dari pandangan karena ingin segera rasanya menuruni bukit batuan dengan berlari dan segera menginjakkan kaki di Salju Abadi.

Tepat pukul 09:45 WIT 4 December 2005, begitu menginjakkan kaki di salju abadi, Papa pun terus melanjukan perjalan 1 km terus keatas untuk sampai di tempat tujuan. Papa dan teman teman sangat menikmati pendakian tersebut, dan bagaikan lomba tri athlon dimana semua perserta nya bergantian mencapai garis finis dan memutuskan pita finish... dan teman Papa yang terakhir sampai seakan akan menjadi momen penting dimana semua pendaki di dalam team telah meraih kesuksesan untuk menapakkan kaki di Cartensz Glacier.

Ada yang teriak teriak, terharu,  bernyanyi, berguling guling, main bola bola salju, berseluncuran, kejar kejaran dan tidak lupa ber foto ria dengan kamera digital nya masing masing, dengan berbagai pose dan gaya yang aneh aneh dan lucu lucu, Papa pun tidak lupa mengabadikan semuanya dengan Digital Camera SOny DSC770 Semi SLR yang dibawa dan juga dengan Handycam Panasonic Mini DV.

Pada momen terakhir sebelum turun, sambil di rekan dengan Handycam seluruh team pun mulai menyanyikan lagu Indonesia Raya yang tidak pernah direncanakan sebelumnya untuk dinyanyikan, tiba tiba saja ide itu muncul... mungkin karena perasaan terharu dan rasa nasionalisme yang tinggi yang sangat mengagumi salah satu keindahan alam nusantara ini. Dengan mengibarkan bendera Merah Putih yang kebetulan waktu itu ada yang bawa, dan juga spanduk kain merah yang bertuliskan nama nama pendaki maka lagu Indonesia Raya tersebut sangat khidmat, penuh spirit dan terasa mendalam sekali,... amazing!

Tidak terasa Papa dan teman teman sudah 120 menit berada di Glacier, karena memang Papa dan teman teman tidak merencanakan untuk menginap di sana, karena butuh persiapan dan perlengkapan yang lebih lagi jika ingin menginap. Papa dan teman teman pun mulai melakukan perjalanan turun, persis ketika itu badai salju pun turun diiringi dengan kabut yang sangat tebal, pandangan hanya 2 sampai 3 meter saja, sangat berbahaya jika tidak berhati hati karena bisa terperosok ke jurang es yang permukaannya berupa es tipis saja. Alhamdulilah proses menuruni Glacier pun selamat, dan perjalan turun pun di lanjutkan kembali.

Dalam perjalan turun ini barulah Papa dan teman teman sadar, betapa sangat indahnya pemandangan yang dilewati mereka ketika perjalanan naik ketika malam hari... sangat sangat indah dan menakjubkan. Paparan batuan dengan landscape yang seakan akan di atur sedemikian rupa oleh sang pencipta, dan juga adanya danau danau yang permukaan airnya ada beberapa warna dan membeku. Dan juga tidak bisa dibayangkan, jikalau pendakian ini dilakukan pada pagi/siang hari maka bisa dipastikan sangat banyak peserta yang mundur karena pada saat turun setelah melihat kenyataan perjalan yang dilewati Papa dan teman teman hanya bisa menarik napas panjang dan berkata, takjub dengan perjalan yang kita lakukan tadi malam...

Alhamdulilah, pada pukul 16.oo Papa sampai di rumah dengan selamat, dan dengan kaki yang rasanya tidak bisa diangkat lagi untuk melangkah tapi perasaan terharu dan bangga bisa selamat sampai dirumah yang disambut dengan gembira oleh FaYa dan Mama. Setelah istirahat beberapa jam Papa pun dengan sukacita menceritakan pengalaman pendakian dan tidak lupa Papa menempelkan Foto ukuran kecil kami bertiga (Papa, Mama dan Faya) ketika berada di salju abadi pada sebuah tempat yang dirahasiakan :), bukan untuk tujuan yang mengada ngada, cuma hanya untuk meninggalkan sebuah kenangan kasih sayang sebuah keluarga di sebuah tempat tertinggi didunia, dan dalam hati Papa berkata, kapan Papa akan mengunjungi Cartensz Glacier lagi?

cartensz cartenszs glacier expedition - ekspedisi pendakian mendaki glacier papua puncak jaya sudirman cartensz summit

More Pictures (update 20140924)

Hello World, its me 

3 colours lakes

route beside the 3rd lake

wind-door / pintu angin

zebra wall, can you see a head there? :) - amazing captured moment

me and Pak Wiyarto, my Best Friend, forever! he is a HD biker

my good fellas, Capt. Inf. Syawal Kostrad 501 and The Handsome Herrin 

Pak Yostiarso (Yos) Tamba and Capt. Inf. Syawal 

Mase Joko Santoso - The Snow Bear, nice friend and forever

with my brother, Fahmi Munsah... success and god bless healthy, as always Fahm..

The Putra Minang, IKM - Pak Yasri Rifai, Taufik Putra the Bandaro Kayo, Fahmi Munsah and Me

The kind man, Pak Ukar Hastadi... a nice person with good personality

track down the mountain

Pak Yasri, Pak Ram Utaryo the Ahli Hisab / smoker hehe, and Pak Ukar

take a breath

The Amazing Great Merensz Glacier, i will be back!

this is my favorite photo

this is how to enjoy the achievement!

3 colours lakes

merensz view from south side

i named it, the Great Shiny Wall!

almost arrived

fahmi, muji, herrin and me - missed you all...! path may cross again, ok.

 

sudah dibaca pengunjung 7569 kali

copy paste? silahkan, tidak dilarang. Tapi minta tolong supaya dicantumkan link sumbernya, anda lebih keren.

Share to Facebook


COMMENTS [3]
wah...keren banget kapan iyah aku bisa kaya bapak ini
ke RINJANI mount,kerinci ,dempo aja belm pernah paling baru sekitar jawa aja..
salut buat bapak yang satu ini

salam RImba
posted by fanca adinugraha on 20 Apr 2009 12:01

Om.....
aku mau nonton donog videonya.......
soalnya aku punya tim yang namaya "PETUALANG".....
aku orang ciputat/jakarta selatan..
walauw aku baru pemula aku pasti bisa kaya Om.............
Oh ya tolong kasih tips ya dong ka;aw mau daki gunung??????
plis!!!!!!!
plis!!!!!!!
plis!!!!!!!
posted by sidiq on 25 Oct 2008 18:16

kren om tapi biya2 tuk naek brapa om' dari ijin mpe tetek bengek yg laen nya brapa om....... trus apa d sana menyewakan peralatan tuk tracking seperti jaket spatu dlll..! saya anak bekasi, tmn saya nekat ingin naek tapi gk pnya peralatan dia ini anak nya phsyco of mount om agk eror mohon penjelasan nya, biar die siap
posted by bagan on 06 Nov 2007 04:26


Please Leave Your Comment Here / Kami Sangat Senang Menerima Komentar Anda
Your Name * maksimum 30 karakter
Your Email * email anda tidak akan ditampilkan / your email will be hidden
Comment *
Pesan anda akan ditampilkan setelah di cek oleh Admin
Your comment will be shown after moderated by Admin

Tulisan Terkait dengan Kategori: blog, keluarga, travel, outbond

Thanks jQuery Bootstrap CSS3 dan Angular,    Bintan Lagoon Bay, Wahana Baru Wisata Lagoi,    Foto Video Kota Tembagapura Papua Freeport Indonesia,    Horee selesai juga Jembatan Layang di Banjarmasin,    Kuliner Sunda Rumah Makan Sambara,    Karnivor Bandung di Jalan Riau,    Family Adventure - Kalsel Kaltim,    Pantai Angsana di Tanah Bumbu Kalsel,    Pantai Kemala Balikpapan,    Allahuakbar,    Family Adventure - Jatim Bali,    Kusuma Agrowisata Park di Kota Batu Malang,    BNS Batu Night Spectacular,    Pemandian Air Panas di Kota Batu Malang,    Persiapan Acara Perpisahan SD Sabilal Muhtadin 2014,    Horay ... Salsa Wisuda,    Subhanallah, Matahari Sore yang Berkilau,    Family Adventure - Kalteng,    We are The Karate Kids,    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H,    Tips Perjalanan dan Berpetualang dengan Keluarga,    Daging Sapi di Indonesia, Dilema?,    Family Adventure - Jatim Jogja Jateng,    Ternyata ini Bakugan, Bakuka ...,    Tepian Sungai Martapura Banjarmasin,    Mengagumi Keindahan ciptaan Allah SWT,    McQueen The Cars dan MadTruck,    Welcoming 2013, New Year, New Weblog Face,    Festival Layang Layang dan Family Time,    NERF Senjata Mainan Busa,    Mustang P51 Electric Powered RC Plane,    Terbang Sabtu 21 July 2012,    AMOLE Radio Control Tembagapura,    Videolog ALFi,    Mancing Mania, Mantap,    Palapa, Bukit Barat, Helipad, Tomawin Dome at Tembagapura,    ALFi Tour ke Kantor dan Workshop Papa,    Kakak Balerina, ALFi Atletik dan Salsa Ikut Saja,    Tepi Laut dan Sri Bintan Pura ,    Nemu McQueen di BIP Bandung,    Bandara Mozes Kilangin Timika,    Schooling in Tembagapura,    Ceria Tembagapura,    Kamera Prosumer FujiFilm Finepix,    My Lovely Boy n Daughters,    Natural views around our exciting town Tembagapura Papua,    Didnt you know?,    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H,    Playground Hidden Valley,    Vacation 2008 - Part 1,